CINTA INI BUNUH-BUNUHAN
Penulis: Hilda Wardani[1]
Suara
pohon bergemuruh yang di terpa angin malam seakan menemani Azrial yang sedang
terduduk di taman. Tangannya menggenggam minuman botol yang tadi di belinya.
Sesekali ia mencengkram kesal minuman tersebut.
Waktu
terus berjalan, detik mulai bergant menit, hingga berganti jam, namun Azrial
masih duduk di bangku taman itu di temani dengan riuhnya suara angin yang
menerpa sebuah pohon rindang tersebut. Azrial yang semula terduduk mulai
berdiri, wajahnya mulai kesal karena bosan menunggu sendirian. Ditambah lagi
suasana yang begitu sepi di taman tersebut.
"Azrial.."
sebuah suara memanggil namanya. Dengan cepat Azrial langsung menengok, berharap
orang yang ditunggunya telah tiba.
"Ehh,
Fresya. Gue kira siapa?" wajah Azrial seketika lesu, ketika melihat wajah
cewek yang baru datang itu.
"Lo
ngapain malem-malem disini, sendirian lagi?" Fresya berjalan
menghampiriAzrial, lalu ia terduduk di bangku panjang yang tadi Azrial duduki.
Azrial
ikut terduduk, setidaknya kedatangan Fresya sedikit meredam rasa kesalnya
karena menunggu orang itu. "Nunggu Listi, tapi gak dateng-dateng."
ucapannya terdengar malas campur kesal.
"Mungkin
dia ada urusan."
"Bisa
jadi." Azrial semakin malas menjawabnya. Rasa kesalnya sudah tingkat akut.
Keduanya
terdiam, menikmati keadaan angin malam tersebut. Pikiran Azrial masih berpacu
pada Listi. Kekasihnya itu belum juga datang. Astaga! Sudah lama sekali Azrial
menunggu. Mungkinkah Listi tidak memiliki jam? Atau dia tidak bisa membaca
jarum jam.
"Meong.."
seekor kucing melintas di kaki Azrial dan Fresya. Fresya tersentak kaget ketika
kulitnya bersentuhan dengan bulu kucing tersebut. Wajahnya seketika panik.
"Aaaa..."
Fresya berteriak, kakinya langsung naik ke atas bangku. Refleks ia langsung
memeluk tubuh Azrial yang berada di sebelahnya. Matanya terpejam dalam pelukan
Azrial.
Azrial
ikut kaget, dengan tingkah Fresya yang ketakutan. Azrial pun sedikit terpaku
ketika tiba-tiba Fresya memeluknya.
"Sya,
lo kenapa?" Azrial bertanya bingung dengan tingkah Fresya yang masih
berada di pelukannya.
"Itu
kucing." mata Fresya masih terpejam, enggan untuk terbuka. Tangannya
semakin erat memeluk Azrial, kakinya masih berada di atas bangku.
"Ya
ampun, nggak ada kucing makan orang."
"Bodo!
Gue takut, Azrial!"
"Yaudah
gue usir yaa. Lo nya lepas dulu dong!" Azrial berusaha menenangkan Fresya.
Namun Fresya enggan untuk melepaskan pelukannya. Ia benar-benar ketakutan.
Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Sungguh! Ketakutannya memang luar
biasa.
"Gak
mau gue takut!" Fresya keukeuh, tidak mau melepaskan pelukannya. Matanya
masih tetap terpejam, enggan melihat apapun.
***
Dengan
tergesa seorang cewek berjalan menghampiri bangku taman tersebut. Wajahnya
terlihat gelisah. Ia pun mempercepat jalannya. Matanya mencari sosok cowok yang
berstatus kekasihnya itu.
Tepat!
Matanya menangkap di salah satu bangku, yang berada di sebelah pohon rindang,
terdapat kekasihnya sedang di peluk seorang cewek. Matanya memanas, emosinya
membeludak, gejolak amarah mulai memburu di hatinya. Tangannya mengepal dengan
kuat, ingin rasanya ia melayangkan tonjokan pada kedua makhluk itu.
"AZRIAL!!"
Listi menyentak dengan suaranya yang menyimpan emosinya. Matanya sudah melotot
pada Azrial yang posisinya masih di pelu Fresya.
Azrial
menengok pada Listi, ia terkejut melihat Listi datang. Dengan segera ia
melepaskan tangan Fresya yang melingkar di tubuhnya.
"Listi?"
Azrial terkejut akan kedatangan Listi. Azrial langsung berdiri dan menatap Listi
khawatir.
Fresya
terdiam, menyaksikan Listi yang terlihat emosi, dan Azrial yang begitu
ketakutan. Fresya pun langsung pergi dari taman itu, karena takut ia akan kena
sasaran akan amarah Listi.
"Mata
gue masih normal loh. Gue liat lo pelukan sama Fresya." mata Listi
memandang sinis pada Azrial. Matanya yang berwarna coklat kian memerah. Tatapan
dingin menusuk tajam mata Azrial.
"Lis,
tadi..."
"Tadi
elo pelukan sama Fresya." Listi langsung memotong omongan Azrial.
Keduanya
kini saling terdiam, jarak di antara mereka hanya berkisar beberapa jengkal.
Tatapan mengerikan mulai terpancar dari mata Listi. Amarahnya benar-benar
memuncak.
Azrial
yang semula ketakutan Listi marah, kini matanya justru ikut menatap Listi
sinis. Ia sadar, tadi bukan sepenuhnya kesalahannya. Seandainya Listi tidak
sengaret itu, mungkin Fresya tidak akan datang menemaninya. Dan kini, Azrial
yang seharusnya ingin mengomel pada Listi, karena harus menunggunya berjam-jam
malah Listi yang ingin marah.
"Lo
tau? Betapa bosennya gue nunggu lo sendirian disini?" Azrial menatap tajam
Listi. Matanya menorobos pandangan Listi.
"I
know." jawab Listi santai.
"Dan
lo dateng, mau marah-marah ke gue?" Azrial kembali bertanya dengan tatapan
sinisnya.
"Gue
pantes buat marah, pacar gue pelukan sama orang laen!" desis Listi dengan
santai. Namun matanya tak melepaskan pandangan dari tatapan Azrial.
Mata
keduanya saling memandang sinis. Tatapan membunuh tepatnya. Keduanya berjalan
mendekat, kini jarak mereka sangat dekat. Mereka saling berhadapan. Tatapan
keduanya semakin tajam. Emosi mereka benar-benar telah di ujung tanduk.
"Gue
benci nunggu lo, Ella Listiana." tangan Azrial mengeluarkan sebuah pisau
cutter dari saku celananya. Pisau tersebut tepat di arahkan pada leher Listi.
Listi
tersentak kaget, melihat pisau tersebut mendekat dengan lehernya. Hatinya mula
resah dengan sikap Azrial. Ia tak menyangka Azrial akan melakukan ini.
Dengan
cepat Listi langsung memeluk Azrial, ia tampak hati-hati karena takut pisau itu
mengenai lehernya. Listi memeluk Azrial erat, namun pisau tersebut belum lepas
dari tangan Azrial.
"Maafin
gue. Tapi..." Listi menggantung kalimatnya. Namun ia mengeratkan
pelukannya terhadap Azrial. "Gue juga benci di khianatin, Azrial
Devan!" sebuah gunting dari saku celananya kini menancap di punggung
Azrial.
"Ahh.."
Azrial terkejut dengan kelakuan Listi. Tubuhnya langsung ambruk di atas
rerumputan tersebut. Darah dari punggungnya mengucur deras. Kaos berwarna
putihnya kini telah berubah menjadi merah karena cucuran darah tersebut.
"Lis..
ti.." Azrial memanggil nama Listi dengan tersenggal senggal. Listi
tersenyum melecehkan pada Azrial.
"Apa
sayang?" Listi menunduk, wajahnya mendekat pada Azrial yang tersungkur di
tanah.
Sreekk..
pisau Azrial kini membeset kaki Listi. Listi pun ikut terjatuh karena kakinya
berdarah akibat pisau Azrial. Ia meringis kesakitan menahan perih di kakinya
itu.
Keduanya
kini telah tersungkur di tanah. Dengan sekuat tenaga Azrial melepaskan bajunya.
Kini tubuhnya telah bertelanjang dada. Azrial merobek kaos putihnya, lalu ia
mengikat pada bagian punggungnya yang terus bercucuran darah.
"Kita
impas, Listi! Tapi gue belom puas!" Azrial menyeringai dengan begitu
seramnya menatap Listi. Listi mulai ketakutan.
"Aaaaa..."
Listi berteriak dengan kencang ketika lehernya di sayat oleh pisau Azrial.
Azrial tersenyum puas melihat Listi yang merasakan perihnya sayatan yang di
ciptakannya.
Azrial
langsung tersenyum bangga. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan Listi dengan
sayatan di leher dan kakinya. Tanpa ada rasa iba sedikitpun, Azrial melangkah
pasti meninggalkan Azrial.
Entah
sejak kapan, sebuah besi runcing berada di dekat pohon tersebut. Sekuat tenaga
Listi meraih besi tersebut. Nafasnya msih memburu, terengah-engah, namun
tekadnya begitu kuat untuk menggapai Azrial.
"Tunggu
Azrial!!" Listi berjalan dengan sedikit di paksakan. Azrial yang mendengar
suara Listi sontak menengok.
Tepat!
Di saat Azrial menengok besi runcing tersebut telah menancap di perut Azrial.
Perut Azrial pun robek, menghasilkan darah yang semakin banyk mengucur. Dari
mulutnya pun ikut mengeluarkan darah. Azrial kembali tersungkur. Sedang Listi
tersenyum senang. Namun kakinya sudah tak kuat menyangga tubunya. Listi pun
ikut terjatuh, lebih tepatnya terbaring di dekat Azrial.
Bukk...
Sebuah batu yang diam-diam di gapai Azrial di benturkan dengan kuat ke kepala
Listi. Kepala Listi pun berlumuran darah karena beturan batu tersebut. Otaknya
seakan remuk.
"Sebelum
lo mati, gue gak akan mati." desis Azrial disertai senyuman evilnya.
"Gue
juga!" Listi yang kepalanya sudah terasa begitu nyeri masih bisa untuk
bertahan menuntaskan semuanya pada Azrial.
Rasa
cintanya seakan sirna begitu saja. Entah apa yang di derita keduanya, keduanya
bagaikan seorang psikopat yang belum puas selagi belum melihat lawannya mati
terkapar.
Listi
menarik jemari tangan Azrial. Ia langsung mengarahkan kemulutnya. Dengan
kencang Listi menggigit jemari Azrial. Gigitan yang begitu kencang itu ternyata
mampu memutuskan sebagian jari Azrial. Azrial meringis kesakitan, sedang Listi
tersenyum kegirangan.
Dalam
keadaan punggung yang terus mengucur darah, sama halnya dengan perutnya, serta
tangan kirinya di gigit Listi hingga jarinya putus, Azrial masih kuat bertahan.
Tangan kanannya masih memegang pisau cutter tersebut, perlahan namun pasti,
Azrial melayangkan pisau tersebut ke pundak Listi. Gigitan Listi pun merenggang
pada jemari Azrial. Listi sudah benar-benar tak kuat. Namun Azrial belum puas
atas penderitaan Listi.
Entah
dari mana asalnya, tiba-tiba sebuah golok telah berada di tangan Azrial. Azrial
langsung melayangkan golok tersebut ke leher Listi. Bagaikan menyembelih
binatang, Azrial menggorok leher Listi dengan goloknya. Sehingga perlahan demi
perlahan, kepala Listi terlepas dari tubuhnya.
"Hahaha...
Hah.. haa.." Azrial tertawa sambil menghembuskan nafas terakhirnya, ia
akhirnya ikut terjatuh kembali dan tewas mengenaskan bersama dengan Listi.
***
"Aaaaaaaa..."
sekuat mungkin Listi berteriak. Keringat mengucur di pelipisnya, nafasnya kian
memburu, tubuhnya bergetar begitu hebat. Dengan mata masih terpejam ia begitu
ketakutan.
"Azrial!!"
Listi bangkit dari tidurnya, wajahnya masih shock akan mimpi mengerikan itu. Ia
bergidik ngeri mengingat mimpi tersebut.
Mimpi
itu! Terasa begitu nyata, meski agak berkhayal. Dalam mimpi itu Listi
berpacaran dengan Azrial. Padahal nyatanya hal itu tidak pernah terjadi. Listi
memang menyukai Azrial, namun Azrial terlalu besar di matanya, sehingga
membuatnya pesimis untuk menggapai Azrial. Namun di mimpi tersebut, emosi
keduanya sangat tak terkontrol, hingga menjadikan Listi dan Azrial saling
menyerang.
"Gila!
Itu mimpi apaan?" Listi masih shock akan mimpinya, nafasnya masih
tersenggal-senggal.
Sebisa
mungkin Listi menarik nafas panjang, menangkannya dari mimpi mengerikan itu.
Meski kejaian mimpi tersebut masih berputar di otaknya.
"Listi
ada temen kamu nih.." dari ruang keluarga, terdengar suara Mama Listi yang
memanggil Listi.
Listi
pun bangkit dari tempat tidurnya, ia meminum segelas air putih yang berada di
meja kamarnya. Dengan sedikit merapikan penampilan yang acak-acakan setelah
tidurpun Listi akhirnya keluar dari kamarnya.
***
Wajah
Listi tampak begitu gelisah. Listi menggosok-gosokan kedua telapak tangannya
yang mengucur keringat dingin. Di kantin sekolahnya ini Listi tampak begitu
ketakutan, di temani Fresya, sahabatnya yang duduk di sebelahnya.
Fresya
tersenyum geli melihat tingkah Listi. Fresya telah di ceritakan tentang mimpi
Listi. Ia tertawa terpingkal-pingkal akan mimpi Listi. Karena dirinya seakan
terlibat di mimpi tersebut.
"Ayolah,
Lis gak usah tegang gitu. Keputusan lo bener kok nerima Azrial, lagi itu mimpi
lo kan buat jadi pacar Azrial?" Fresya berusaha menenangkan Listi yang
masih gelisah akan keputusannya saat Azrial menyatakan cinta padanya.
"Mimpi
gue? Mimpi gue itu serem banget, Fresya!" Listi menatap Fresya dengan
pandangan yang masih ketakutan.
"Mimpi
lo lucu, yang takut kucing itu elo! Bukan gue!"
"Tapi
gue takut.." suara Listi terdengar bergetar, ia sungguh ketakutan akan
mimpi tersebut.
Seorang
cowok yang juga mengenakan seragam sama seperti Listi datang, menggeser bangku
kantin tersebut, lalu duduk di bangku itu. Ia menenteng sebuah apel berwarna
merah. Lalu menyodorkannya pada Listi.
"Mau
gak?" Azrial menawari Listi dengan lembut. Listi sedikit terkejut akan
kedatangan kekasih barunya itu secara tiba-tiba.
"Emm..
boleh." jawab Listi sedikit canggung.
Fresya
melihat wajah Listi yang masih ketakutan. Fresya sdikit khawatir akan sikap
Listi ini. Hingg Fresya enggan beranjak meninggalkan Listi berdua dengan
Azrial.
"Bentar
yaa, gue pinjem pisau dulu." Azrial berdiri, berjalan kearah pedagang
kantin.
"Pisau?"
Listi mengulang kata-kata Azrial. Ia langsung ketakutan ketika mendengar satu
kata itu.
Azrial
datang dengan membawa pisau. Mata Listi langsung memandang Azrial ketakutan.
Wajahnya semakin gelisah. Namun sebisa mungkin Listi berusaha tenang, itu hanya
mimpi!
"Azrial
lo ngapain bawa-bawa pisau?" sadar atau tidak, Listi langsung berteriak
menyentak Azrial ketika Azrial berjalan mendekat ke bangkunya sambil
menggenggam pisau yang baru di pinjamnya.
"Kan
buat mototng apel, Sayang!" Azrial menjawab dengan lembut.
Listi
merutuki dirinya sendiri, astaga! Mengapa Listi menjadi separno ini. Mimpi itu
benar-benar sangat buruk dalam perjalanan mimpinya. Azrial, yang kemarin amat
di idam-idamkannya telah menjadi kekasihnya. Namun gara-gara mimpi itu Listi
harus resah tidak jelas seperti itu.
Azrial
membungkuk, meraih sebuah golok yang terjatuh di dekat kakinya. Azrial pun
mengangkat golok tersebut. Beberapa saat Azrial memandangi golok yang sedang
berada di genggamannya itu.
"Azrial
lo apa-apaan megang golok?" Listi kembali tersentak kaget ketika tangan
Azrial memegan golok yang terjatuh di dekat kakinya itu.
"Lah?
Gue cuma bantu ngambilin golok Mang Arip, nih Mang goloknya." Azrial
memberikan golok tersebut pada seorang bapak-bapak yang sudah berumur.
"Ohh,
ehh, gue kira ngapain?" wajah Listi mulai kikuk, sikapnya semakin aneh
saja.
Meski
awalnya khawatir, Fresya kini malah tertawa geli melihat kelakuan parno
sahabatnya itu. Melihat wajah Listi yang tak henti-hentinya gelisah, serta
berbicara yang membuatnya semakin tertawa geli.
[1]. Seorang Mahasiswa Sistem Informasi Universitas
Nahdlatul Ulama Indonesia, memiliki Hobi membaca Novel dan Menuliskan kembali
Novel dalam sebuah Imajinasi berbeda.
0 komentar:
Posting Komentar