Oleh: Ali Mukoddas
Hanya karena satu kesalahan, Iblis terlahir sebagai
tokoh antagonis yang diciptakan Tuhan. Iblis, makhluk yang amat baik menjadi
terlihat jahat karena kutukan. Hanya karena tak mau mengakui Adam sebagai
makhluk terbaik ciptaan Tuhan, konsekuensi keren dipertaruhkan di pundak Iblis.
Bagaimana Tuhan yang maha baik, maha adil, maha segalanya, menciptakan musuhnya
sendiri? Jalan pikir Tuhan menjadi misteri.
Siapa yang paling taat kepada Tuhan di muka bumi
ini? Biarlah saya menjawab, Iblis. Apakah saya berteman dengan Iblis hingga
saya mengatakan dia yang tertaat? Oh, tidak. Secara gamblang kita dapat
memikirkan dan merangkai segala kejadian dari cerita-cerita yang bertebaran
dalam agama, kemudian berpikir lurus tentang kebenaran Iblis sebagai yang
terpatuh.
Diceritakan si Iblis ini karena tidak memberi salam
penghormatan pada Adam, karena merasa dirinya sebagai yang paling sempurna,
lantas Tuhan mengutuk Iblis dan mengecamnya sebagai penjahat. Kemudian satu
pinta Iblis, dia berharap dirinya kekal di dunia dan senantiasa mendapat
lisensi dari Tuhan agar selalu bisa menggoda manusia untuk dijadikannya teman
di Neraka. Tuhan mengabulkan, dan saat itulah Iblis benar-benar pantas dengan
namanya, yang menurut saya nama yang amat puitis.
Bayangkan saja, hanya itu titik kesalahan Iblis,
dan sisanya dia taat menjalani apa yang dikehendaki Tuhan, yaitu menggoda dan
mengajak ke neraka setiap manusia. Sampai saat ini tidak pernah saya dapati
Iblis mengajak manusia untuk berbuat baik agar masuk ke Surga, karena itu
adalah dosa baginya. Iblis tidak mau berteman dengan manusia tanpa ada imbalan
besar yang bisa didapatnya, dari itulah dia membuat kebaikan sebagai Iblis.
Patuh sekali, bukan, si Iblis itu? Ayo ngaku, salah atau benar? Saya pastikan benar, bahwa Iblis dari sisa
kesalahannya amatlah patuh, patuh sepatuh-patuhnya dibanding manusia sekarang,
atau manusia zaman batu sekali pun. Manusia sekarang diberi kewenangan
menyebarkan uang seribu perak, yang sampai lima ratus perak. Diberi kepercayaan
menjadi pemimpin, malah menjadi begal berdarah dingin yang bertopeng badut agar
tampak lucu. Iblis tidak seperti itu, Iblis tetap menampakkan wajah Iblisnya.
Bahkan, menurut saya Iblis amat bijak menjalani hidupanya. Dia memiliki tujuan
yang pasti, tidak seperti saya yang pontang-panting memikirkan kehidupan yang
baik bagaimana.
Kemudian yang menggelikan dari Tuhan adalah, tidak
ada kerjaan sekali Tuhan, ya? Dia yang maha segalanya menciptakan
musuh-musuhnya sendiri. Hingga ada puisi anekdot dari teman saya, sebutlah bang
Nuril Supriadi. Katanya, dalam kesunyian, Iblis dan Tuhan dapat kucumbu secara
bergantian. Dia menganggap Iblis musuh Tuhan, dan Tuhan musuh Iblis. Padahal
kalau berkehendak Tuhan bisa memusnahkan Iblis kapan saja. Tapi kalau
dimusnahkan, berarti Tuhan ingkar terhadap janjinya untuk tetap membiarkan
Iblis abadi di dunia. Tapi kalau begitu, tampak Tuhan tak memiliki otoritas
segalanya dari apa yang Dia bisa. Ini malah membingungkan.
Kepada Tuhan aku tak mau ambil pusing memikirkan
jalan skenarionya. Sebab akan banyak sekali pertanyaan yang muncul. Seperti,
apakah Tuhan ingin mencegah kejahatan namun tidak mampu? Berarti dia tidak
mampu. Dia mampu tapi tak berkehendak? Jelas itu dengki. Dia mampu dan berkehendak?
Lalu dari mana datangnya kejahatan? Jangan sekali-kali salahkan Iblis, karena
dia sedang beribadah menjalani kewajibannya sebagai bintangnya penggoda.
Akhir dari bacot saya, manusia tidak lebih taat
dari Iblis. Maka akuilah ketidaktaatan itu. Cukup sulit, ya, menjadi orang
baik? Tapi bagi Iblis, dia mungkin berpikir, cukup sulit, ya, jadi jahat? Iblis
harus mempertahankan mati-matian kejahatannya. Bayangkan, dari manusia pertama
ada sampai akhir dari manusia dia tetap beribadah tanpa henti. Maka saya ragu
kalau semisal nanti di akhirat, dari hasil jerih payahnya yang besar itu Iblis
dimasukkan ke Neraka. Loh, kok tidak jadi dimasukkan ke Neraka? Wong dia amat
taat, dan hanya satu kesalahan awal yang dibuatnya. Bayangkan manusia, berapa
kesalahan yang dikerjakannya? Lalu manusia mengatakan, hidup ini tidak adil.
Alah, cemen. Iblis saja tak pernah mengatakan yang demikian.[]
0 komentar:
Posting Komentar