Gender “Feminisme Muslim”



Oleh: Siti Maslahah Amalia
Perempuan muslim berada diantara dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang pertama menganggap bahwa perempuan muslim adalah sebagai perempuan yang tertindas. Sedangkan sudut pandang yang kedua meyakini bahwa ajaran islam memberikan kepada perempuan kedudukan yang tinggi.
Seringkali penafsiran agama dijadikan alasan untuk menolak kesetaraan jender dan kemajuan perempuan. Perempuan sering di anggap hanya sebagai manusia pelengkap bagi kaum laki-laki. Dan hal tersebut seolah menjadi kodrat yang tak lagi layak dan patut dipertanyakan. Namun, kondisi ini memunculkan usaha untuk melihat al-quran dengan perspektif gender.
Lewat tokoh-tokoh muslim seperti Fatimah Mernissi dari Maroko, Riffat Hassan dari Pakistan, dll. Mereka dikenal sebagai feminisme muslim dengan gagasan dan ide-idenya untuk kembali mempelajari dan memahami agama tidak hanya secara tekstual saja. Indonesia pun ada beberapa orang yang dikenal namanya seperti Nassaruddin Umar, Siti Ruhaini Dzuhayati, dll. Mereka melakukan pengamatan, penelitian dan membuat tulisan tentang bias jender dalam budaya islam dan tafsir al-quran.
Gagasan dan pemikiran feminisme muslim bermaksut untuk menjamin keperpihakan islam terhadap integritas dan otoritas kemanusiaan perempuan yang ada pada narasi-narasi besar wacana keislaman klasik. Dan penafsiran ayat al-quran dan pemahaman hadits yang berkaitan erat dengan perempuan, pada umumnya menjadikan titik awal penelitian para feminis me muslim.
Pembicaraan kesetaraan sering dikaitkan dengan emansipasi, sementara itu istilah emansipasi masih menjadi pokok pembicaraan di kalangan umat islam. Namun sebagian besar ada juga yang mengatakan bahwa istilah tersebut tidak perlu lagi di bahas sebab, itu hanya masalah istilah. Di dalam konsep islam, laki-laki dan perempuan adalah makhluk ciptaan allah yang memiliki persamaan namun juga, memiliki perbedaan.
Feminisme muslim hanya ingin mengubah citra perempuan dalam pandangan sosial budaya yang ada sejak dulu hingga sekarang. Selama ini perempuan hanya dipandang dari perspektif laki-laki, yang seolah-olah menghilangkan peran perempuan dalam budaya. Feminisme muslim ingin membangun citra dan imajinasi baru tentang perempuan.
Bagi feminisme muslim kesetaraan jender tidaklah dilihat dengan cara bahwa apa yang di lakukan laki-laki juga bisa dilakukan oleh perempuan, namun kesetaraan jender juga harus dilihat dari nilai-nilai agama yang ada. Feminisme muslim juga sekarang lebih sering memasukkan unsure-unsur agama dalam menentukan sikap dan perilaku perempuan dan laki-laki.
Dan feminisme muslim juga beranggapan bahwa kita tidak hanya memperjuangkan perempuan dalam mencari ruang politik. Namun, harus juga menyadarkan perempuan dan laki-laki bahwa pekerjaan mengurus domestic adalah suatu yang patut untuk dihargai, dan diperhatikan. Karena, pekerjaan rumah tangga tidak hanya menjadi pekerjaan perempuan saja. Laki-laki pun harus sadar akan tanggung jawab di dalam mengurus rumah tangga.
Dan menurut Fatimah Mernissi, perjuangan perempuan tidak hanya untuk memperoleh kesetaraan saja. Namun, yang terpenting adalah menunjukkan potensi dan kesadaran perempuan terhadap apa yang mereka perjuangkan. Serta, bagaimana cara memperjuangkan sebuah gagasan agar bisa di terima semua pihak. Dan pilihan secara tepat, sadar dan tanggung jawab tanpa mengabaikan kepentingan yang lain, akan membuat citra perempuan menjadi lebih baik.

SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar