“Di Balik Buah
Bibir”[1]
Tema ini adalah pembahasan tentang literasi membaca. Membaca
adalah suatu cara untuk mengetahui sesuatu yang akan di cari mengetahui yang
kita ragukan.
Apabila setiap warga Indonesia membaca dalam 1 hari
satu halaman dalam sebuah buku, koran, novel, majalah maka Indonesia akan
terselamat dari buta huruf dan meningkatnya produk sebuah karya tulisan karena
sebuah tulisan pasti refrensinya dari buku.
Penulis pun membuat filosofi “Jangan Bicara Kalau
Tidak Membaca Lebih Baik Puasa” filosofi ini menggambarkan dunia modern saat
ini yang cerewetnya dengan media sosial yang saling menjatuhkan orang lain
tanpa ada refrensi yang jelas.[3]
Maka kita sebagai mahasiswa ataupun pihak pemerintah
harus memberikan saran dan solusi untuk mempersatukan kita kembali.
Budaya adalah cipta, karya, rasa manusia, ini adalah
pengertian budaya dalam disiplin ilmu sosiologi dalam kebudayaan kita harus
membiasakan hal yang benar yang bisa di pertanggung jawabkan dalam keilmuannya,
jangan membenarkan hal yang biasa ( perbuatan yang sering kita lakukan tapi
tidak baik ).
Salah satu ayat yang sangat representatif dalam konteks
ini adalah firman Allah SWT “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” ( QS
Al-Hujarat (49):13 ).
Dalam diskusi notulen mencatat beberapa pertanyaan dan
penguat dari para sahabat/i pegiat Diskusi.[4]
Pada tahun 2011 dalam riset UNESCO pembaca Indonesia
hanya 0,0001 %. Kita sering bisa kategorikan orang yang sering membaca ialah
seorang ahli pakar (ahli) membaca buku keahliannya dalam disiplin ilmunya,
seorang mahasiswa membaca tugas yang diberikan dosen, pelajar yang diberikan
tugas oleh gurunya, seorang wartawan membaca berita-berita.
Dalam program Kemensos di era Pak Jokowi menekankan
dan meningkatkan minat baca untuk semua kalangan di Indonesia khususnya
Mahasiswa dan Pelajar.
Dalam melatih menulis di bolehkan salah hal yang
terpenting penulis tidak boleh berbohong yang di ketahui dituangkan dalam
tulisannya tanpa ada refrensinya.
Perbedaan seorang puisi dan pengarang ialah seorang
puisi dari kata yang banyak bisa di sedikitkan kata-katanya, seorang pengarang
dari kata yang sedikit bisa di kembangkan menjadi banyak kata.
Ilmu di dapatkan dari hasil membaca dan setelah
membaca harus ada pengamalan dan di terapkan dalam ruang kenyataannya baik
tulisan dan prakteknya dalam slogan bisa kita sebut janganlah berbicara sebelum
berpikir.
Kita ini harus sama dalam kesatuan tapi tidak harus
berseragam tetapi kita harus menjadi penggerak atau konseptor janganlah menjadi
pengekor atau bersandar pada seseorang untuk dijadikan serdadu
Tugas mahasiswa ialah Agen suatu perubahan (Agen of
Change), pengamat dalam peran masyarakat serta pelaku masyarakat (Social
Control), menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak
mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelum (Iron Stock).
[1]. Tema Diskusi Senin, 27 Desember 2017 Tempat Sekretariat KRB di Jl.
Matraman Dalam III Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.
[2].
Narasumber pada Senin 27 Desember 2017. Seorang Mahasiswa Hukum UNUSIA, Presiden
Mahasiswa UNUSIA sekaligus pengagas Komunitas Ruang Bebas (KRB).
[3] Filosofi
dari pengagas yang menjadi Slogan Untuk Komunitas Ruang Bebas (KRB).
[4].
Moderator Mustofa Akhyar sekretaris Komunitas Ruang Bebas (KRB) kepengurusan
2017
0 komentar:
Posting Komentar