Produksi Kapitalis dari Analisa Karl Marx

Oleh: Khairul Umam 
(Mahasiswa Prodi Teknik Agro Industri)

Analisa Karl Marx terhadap prosuksi kapitalis, sebaiknya dipahami dalam konteks teorinya yang luas tentang masyarakat manusia dan sejarah mereka, materialisme historis. Teori ini menyatakan bahwa setelah melewati berbagai tahap di mana masyarakat tebagi kedalam kelas-kelas dan terjadi eksploitasi atas mayoritas produsen oleh minoritas yang memiliki privilase (keistimewaan), kemanusiaan pada akhirnya akan menghapuskan kelas-kelas dan dominan kelas dengan sebuah proses revolusioner yang dilakukan oleh kaum proletariat yang terorganisir dalam kapitalisme. Posisi revolusioner ini didasarkan pada penyelidikan ilmiah terhadap sejarah secara umum dan kapitalisme secara khusus, dengan penekanan khusus pada ekonomi dan selalu dengan prespektif politik. Apakah materialisme historis memiliki karakter ilmiah atau ideologis.
Dari analisa di atas terdapat dua aspek dari teori kapital dalam arti sebenar-benarnya : nilai surplus (eksploitasi) dan sirkuit kapital (peredarannya). Kedua hal ini dikenalkan secara terpisah, lalu digabungkan secara bertahap dalam analisa terhadap fenomena yang lebih kompleks. Akhirnya, kita membahas tiga kelompok besar mekanisme dasar yang terkait secara langsung dengan genggaman kapital pada berfungsinya ekonomi : (1) kompetisi, (2) akumulasi, perubahan distribusi dan teknologi, (3) krisis dan siklus bisnis. Kita tidak membahas aspek penting lain, seperti perjuangan kelas, dan teori tentang negara.
Sudut pandang materialisme historis dimulai dari pengamatan, bahwa semua masyarakat manusia harus memproduksi untuk mereproduksi individu dan masyarakat itu sendiri. Produksi dalam arti umum ini selalu melibatkan kombinasi antara kerja manusia dengan alat-alat produksi yang dibuat sebelumnya serta sumber daya alam dari bumi. Dengan munculnya petani menetap, produk surplus yang melebihi dan di atas apa yang diperlukan untuk reproduksi menjadi mungkin. Dalam masyarakat dengan produk surplus, muncul eksploitasi kelas,   sebuah bentuk ketidaksetaraan yang terinstitusionalisasi. Masyarakat terbagi ke dalam kelas yang mengeksploitasi, yang berjumlah kecil dan mengambil, mengontrol serta mendistribusikan produk surplus yang dibuat oleh kerja dari kelas produsen yang dieksploitasi yang jumlahnya jauh lebih banyak dan hanya menerima secara rata-rata apa yang diperlukan untuk reproduksi diri mereka. Marx dan Engels membedakan dua aspek dari masyarakat berkelas ini. Kekuatan produksi yang teridiri dari penduduk, sumber daya alam, dan teknologi yang memungkinkan adanya produk surplus; relasi sosial produksi yang terdiri dari kerangka institusional (seperti relasi kepemilikan) melalui mana kelas yang mengeksploitasi mengambil produk surplus. kekuatan produksi dan relasi sosial produksi bersama-sama membentuk cara produksi. Misalnya, dalam cara produksi perbudakan yang menjadi ciri peradaban Romawi dan Yunani kuno, institusi perbudakan yang dipertahankan dengan kekuatan militer serta kekuasaan politik adalah cara melalui mana para pemilik-budak mengambil produk surplus yang dibuat oleh kerja para budak, yang menerima subsistensi minimum. Dalam cara feodal, institusi perhambaan (serfdom) yang dipertahankan dengan kekuatan militer dan kekuasaan politik serta agama, adalah cara melalui mana bangsawan pemilik tanah mengambil sebagian waktu kerja petani-hamba (serf), yang juga bekerja di tanah mereka sendiri untuk memberikan makan dan mereproduksi diri mereka sendiri (atau si petani-hamba harus membayar sewa dengan hasil produksinya atau kemudian, dengan uang, selain berbagai pajak).
Dari sudut pandang materialisme historis, kapitalisme adalah sebuah masyarakat berkelas di mana institusi  kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan kerja upahan bebas adalah cara melalui mana para kapitalis mengambil nilai-surplus yang diciptakan oleh pekerja yang memproduksi komoditi (atau jasa), yang menerima upah. Dalam feodalisme, eksploitasi petani-hamba terlihat nyata : para petani-hamba menggunakan sebagian hari dalam seminggu untuk bekerja di tanah mereka sendiri demi subsistensi mereka, dan sebagian hari lain dalam seminggu di tanah bangsawan untuk membekali konsumsi si bangsawan dan pasukannya. Teorimarx tentang kapitalisme menunjukkan bahwa sekalipun mekanisme ekploitasi kapitalis melalui relasi sosial kerja upahan yang didasarkan pada persamaan hukum yang formal antara pekerja dan majikan, tidak begitu terlihat nyata, para kapitalis juga mengambil waktu kerja surplus dari pekerja. Kapitalisme, dengan demikian, merupakan satu tahap spesifik dari sejarah masyarakat berkelas. Organisasi kapitalisme yang terdesentralisasi dan sangat kompetitif menciptakan insentif yang sangat kuat untuk perkembangan pesat kekuatan produksi melalui pertumbuhan penduduk, inovasi teknik,dan pembagian kerja yang meluas, tetapi ia tidak bisa mengontrol kekuatan yang pertumbuhannya telah ia rancang sendiri.
Dengan demikian para kapitalis tidak bisa men-dewa-kan dirinya sebagian majikan, atau orang yang memiliki sesuatu yang ia kapitaliskan. Jika pun ada kemungkinan besarnya seseorang itu menggunakan cara mendiktatorkan kaum proletariat yakni mengontrol relasi sosial guna meredam adanya revolusioner (meniadakan pembagian kelas atas masyarakat itu sendiri). Dalam kesempatan ini, sebuah sejarah menceritakan bahwa komunisme menandai akhir dari pra-sejarah manusia. “Dimana sebuah transisi yang keras diperlukan, kediktatoran proletariat, untuk mencapai sosialisme dan akhirnya, komunisme, yang menandai akhir dari pra-sejarah kemanusiaan.” (Marx Dan Engels, 1848). Jadi, komunisme merupakan pihak ketiga dari penyelesaian relasi dalam revolusi sosial.
SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar