Hoax?

Oleh: Muhammad Faiz Maulana
(Dosen STAINU Jakarta)
Bagaimana HOAX bisa membludak dalam posisi politisi ? pertanyaan yang membuat seorang intelektual tersenyum kecut. Hoax (read : hoks) sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, hanya saja penyebutannya berbeda. Kita sering menyebutnya rumpi atau gosip. Dalam kajian Antropologi, hoax melalui sebuah gosip yang sering menebar berita dan informasi yang tidak sesuai dengan fakta dan realita. Dewasa ini kita memang sudah menjadi seperti budak hoax. Bagaimana tidak, berita hoax yang terkadang disertai foto-foto atau data-data yang kelihatannya sudah valid justru memacu nafsu seorang individu ikut menebar berita yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan.
Hoax menjadi terangkat pamornya ketika politik di Indonesia sedang bergejolak menghadapi pilkada DKI Jakarta. Tak bisa di nafikan, berita dan informasi menjadi salah satu andalan kuat dalam berkampanye memenangkan kursi nomor satu di ibukota Indonesia. Sebagai generasi dan zaman penjajahan gadget, kita di tantang agar bisa menahan jari jemari untuk tak ikut andil dalam menyebarkan berita dan informasi yang banyak tidak sesuai dengan fakta dan realita. Kata-kata azimat seperti “sebarkanlah”, “klik di bawah ini”, “katakan amin”, “dijamin masuk syurga”, “kalau tidak disebar anda kafir”, dan segala macam sudah menjadi ciri khas bahwa berita tersebut adalah berita hoax. Saya jamin seratus persen, bukanlah seorang intelek jika masih termakan oleh berita yang mencantumkan kata-kata seperti di atas.
Bagaimana cara menyikapinya ? membiarkan, just it. Hanya membiarkan ? kenapa kita tidak mencoba untuk memberi masukan di kolom komentar bahwa berita tersebut hanya hoax ? mungkin kita bisa memberikan berita yang lebih akurat, yang kita sendiri telah melihat atau mengkaji berita tersebut. Yapssss ! that’s true… karena itulah tujuan seorang penyebar hoax, mereka memancing kita untuk berdebat, saling melempar argument, mereka telah menyiapkan jawaban yang tepat dan masuk nalar untuk pembenci hoax dalam adu alasan. Kalaupun mereka tidak menanggapi komentar kita, itu artinya mereka hanya meraup untung dari hasil like, coment, and share. Mereka terkadang mengatas namakan orang yang memang sudah terkenal ataupun yang sedang hangat-hangatnya di perbincangkan. Ingatlah bahwa satu like, satu coment ,ataupun satu share sangat berarti bagi mereka walaupun mereka sendiri menyadari bahwa mereka telah menyebar berita yang tidak benar.
Berita hoax biasanya berisikan sebuah ambisi, menebar kebencian, dan ketara sekali pro dan kontra terhadap pihak satu dengan pihak lain. Hoax hanyalah berita yang diangkat dari satu sisi, entah sisi yang di dukung ataupun sisi yang justru ingin dijatuhkan. Setelah ditelaah pun, hoax biasanya bukanlah berasal dari akun-akun atau website-website resmi. Banyak yang menyebarkan berita ataupun informasi hoax hanya demi mendapatkan recehan rupiah.
Seorang intelektual boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Seorang wartawan adalah seorang intelek yang harus berhati-hati dalam memberikan berita dan informasi untuk konsumsi masyarakat luas. Begitu juga seorang pembaca, dituntut untuk kritis dalam memilah berita, radikal untuk mencari titik terbuntu dalam mendapatkan suatu fakta. Salam komunitas JJ

SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar